Jumat, 01 September 2017

KISAH AL IMAM IBNU JARIR ATH THABARI DAN KAKEK YANG FAKIR (KISAH BEGITU INDAH NAN MENGADUNG PELAJARAN)

KISAH AL IMAM IBNU JARIR ATH THABARI DAN KAKEK YANG FAKIR (KISAH BEGITU INDAH NAN MENGADUNG PELAJARAN)

Dikisahkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari penulis tafsir yang terkenal

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah bertutur: Ketika saya berada di Mekah pada musim haji, saya melihat seorang lelaki dari Khurasan berseru seraya berkata: Wahai sekalian jama’ah haji, wahai penduduk Mekah baik yang di kota maupun yang di desa! Sungguh aku telah kehilangan kantong berisikan uang seribu dinar, maka barang siapa yang mengembalikannya kepadaku, niscaya Allah akan membalasnya kebaikan dan membebaskannya dari neraka, dan ia akan mendapatkan pahala dan ganjaran yang besar di hari perhitungan,,,

Maka berdirilah seorang kakek tua dari penduduk Mekah. Ia berkata kepadanya: Wahai orang Khurasan, negeri kami kondisinya keras sedangkan hari-hari haji dapat dihitung, musim-musimnya terbatas, dan pintu-pintu usaha tertutup. Maka bisa jadi harta itu jatuh ke tangan orang mukmin yang fakir lagi tua renta yang menginginkan jaminan (janji) darimu andai ia mengembalikan harta itu kepadamu. Maka berilah ia sedikit upah (hadiah) dan harta yang halal!

Orang Khurasan ini berkata: Berapa besar kadar hadiahnya? Berapa yang ia inginkan?

Orang tua ini menjawab: Ia ingin sepersepuluhnya, yaitu seratus dinar sepersepuluh dari seribu dinar. Orang Khurasan ini pun tidak setuju. Ia berkata: Aku tidak akan melakukannya dan aku akan menyerahkan urusanku ini kepada Allah. Aku akan mengadukannya kepada Allah pada hari kami berjumpa dengan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung….

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata: Terbesit dalam jiwaku bahwa kakek tua ini adalah seorang yang fakir, ia telah menemukan kantong dinar tersebut dan menginginkan sebagian kecil darinya. Aku pun mengikutinya hingga ia kembali ke rumahnya. Maka keadaannya sebagaimana yang aku duga. Aku mendengar ia memanggil isterinya dan mengatakan: Wahai Lubabah! Sang isteri berkata menyahut: “Labbaik Abu Ghiyats.” Ia berkata: “Aku sudah menemukan pemilik dinar-dinar itu. Ia menyeru mencarinya namun tidak mau memberikan sesuatu kepada orang yang menemukannya. Aku sudah berkata kepadanya: “Berikan kami seratus dinar, namun ia enggan dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Apa yang harus aku lakukan wahai Lubabah? Aku harus mengembalikannya, aku takut kepada Rabb-ku, aku takut kalau Dia akan melipat gandakan dosaku.” Isterinya berkata menimpali: “Wahai orang lelaki, kami hidup menjalani kerasnya kemiskinan bersamamu sejak lima puluh tahun yang lalu. Sedangkan engkau menanggung empat orang anak perempuan, dua saudari, saya, dan ibuku, lalu engkau yang kesembilannya. Kita tidak memiliki kambing dan tidak juga tempat gembala. Maka ambillah uang itu seluruhnya. Kita akan kenyang dengannya, karena sesungguhnya kita kelaparan. Dan berilah kami pakaian dengannya, dan sungguh engkau lebih mengerti tentang keadaan kita. Mudah-mudahan Allah mencukupimu setelah itu sehingga Ia akan memberimu harta setelah keinginanmu untuk keluargamu ini atau Allah akan menyia-nyiakan agamamu pada hari di mana kerajaan itu hanya milik al-Malik (Allah).” Ia berkata kepada isterinya “Wahai Lubabah! Apakah aku harus makan sesuatu yang haram setelah 86 tahun usiaku ini lalu aku akan membakar isi perutku dengan api neraka setelah sekian lama aku bersabar di atas kefakiran dan aku akan mendatangkan murka al-Jabbar (Allah) padahal aku sudah dekat dengan kuburku?! Tidak, maka demi Allah aku tidak akan melakukannya….

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata: Lalu aku berpaling dalam keadaan takjub dengan perkara kakek tua ini dan isterinya. Hingga suatu waktu di siang hari, aku mendengar pemilik dinar kembali menyeru…

Ia berkata: “Wahai penduduk Mekah, wahai sekalian jama’ah haji, wahai tamu Allah baik yang di kota maupun yang di desa, barang siapa menemukan sebuah kantong yang berisikan uang seribu dinar, hendaknya ia mengembalikan kepadaku dan ia akan mendapatkan pahala dan ganjaran di sisi Allah…

Maka kakek tua itu kembali berdiri. Ia berkata “Wahai orang Khurasan, di hari yang lalu sudah aku katakan dan nasehatkan kepadamu. Demi Allah, negeri kami sedikit tanaman dan ambing susu, maka berikanlah kepada orang yang menemukan hartamu itu sesuatu sehingga dia tidak menyelisihi syariat. Dan aku sudah katakan kepadamu untuk memberikan (upah/hadiah) kepada orang yang menemukannya seratus dinar, namun engkau enggan. Maka jika hartamu berada di tangan seorang yang takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka silahkan engkau memberinya sepuluh dinar saja sebagai pengganti seratus yang akan menjadi perlindungan dan penjagaan bagi mereka, juga pencukup kebutuhan dan amanah. Orang Khurasan itu menjawab: “Aku tidak akan melakukannya, aku akan mencari hartaku di sisi Allah dan aku akan mengadukannya kepada Allah di hari kami berjumpa dengan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penolong bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.

Ibnu Jarir ath-Thabari bertutur: Kemudian orang-orang bubar dan pergi. Maka ketika kami berada di suatu waktu di siang hari, aku mendengar pemilik dinar itu kembali menyeru dengan panggilan yang persis sama. Ia berseru: “Wahai jama’ah haji, wahai tamu Allah baik yang tinggal di kota maupun di desa, barang siapa menemukan kantong berisikan uang seribu dinar, maka kembalikanlah kepadaku dan dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran di sisi Allah. Kakek tua itu pun kembali berdiri, ia berkata kepadanya: “Wahai orang Khurasan, dari awal kemaren sudah aku katakan kepadamu, berilah orang yang menemukan harta itu seratus dinar namun engkau enggan. Kemudian sepuluh dinar, engkau juga enggan. Maka silahkan engkau berikan orang yang menemukan harta itu satu dinar saja! Sehingga dengan separuhnya, ia bisa membeli keperluan yang ia butuhkan dan dengan separuh sisanya ia bisa membeli kambing yang dapat diperah susunya. Sehingga orang-orang bisa minum dan mendapatkan harta, memberi makan anak-anaknya dan mengharapkan pahala (dari Allah).

Orang Khurasan itu berkata: “Aku tidak akan melakukannya, tetapi aku akan menyerahkannya kepada Allah dan mengadukannya kepada Rabb-ku pada hari kami berjumpa dengan-Nya. Cukuplah Allah sebagai penolong dan Dia-lah sebaik-baik pelindung.

Kakek tua itu pun menariknya dan berkata kepadanya: “Kemarilah, ambillah dinar-dinarmu, dan biarkan aku tidur malam ini, sungguh hidupku tidak tentram semenjak aku menemukan uang itu.

Ibnu Jarir berkata: Kemudian ia pergi bersama pemilik dinar itu. Dan aku mengikuti keduanya hingga orang tua itu masuk ke dalam rumahnya. Sang kakek menggali tanah dan mengeluarkan dinar-dinar itu darinya. Ia berkata: “Ambillah hartamu ini dan aku akan meminta kepada Allah agar mengampuni diriku dan memberi rezeki kepadaku dari keutamaan-Nya…”

Orang Khurasan itu pun mengambil hartanya dan hendak keluar. Namun tatkala sampai di ambang pintu rumah, ia berkata: Wahai kakek, ayahku semoga Allah merahmatinya telah meninggal dan beliau meninggalkan harta tiga ribu dinar. Beliau berkata kepadaku: “Keluarkanlah sepertiganya dan berikanlah kepada orang yang paling berhak di sisimu.” Maka aku mengikat dinar-dinar tersebut di dalam kantong ini hingga aku menginfakkannya kepada orang yang paling berhak menerimanya. Dan demi Allah, sejak aku keluar dari Khurasan sampai ke sini, aku tidak melihat seorang pun yang lebih berhak menerima harta itu dari pada dirimu, maka ambillah harta ini, semoga Allah memberikan barakah kepadamu pada harta tersebut. Dan semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu atas amanah dan kesabaranmu di atas kefakiran.” Kemudian ia pergi dan meninggalkan harta itu untuknya.

Berdirilah kakek tua itu, menangis dan berdo’a kepada Allah seraya berkata: “Semoga Allah merahmati pemilik harta itu di kuburnya dan memberkahi puteranya….”

Ibnu Jarir berkata: Lalu aku berpaling di belakang orang Khurasan itu, namun Abu Ghiyats mengejarku dan menarikku. Ia berkata kepadaku: “Duduklah, sungguh aku melihatmu mengikutiku sejak hari pertama dan kamu telah tahu kabar tentang kami ini, baik kemaren maupun hari ini. Sungguh aku mendengar Ahmad bin Yunus al-Yarbu’i berkata: Aku mendengar Malik berkata: Aku mendengar Nafi’ berkata: Dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was salam bersabda kepada ‘Umar dan ‘Ali rahidyallahu ‘anhuma: “Apabila Allah mendatangkan hadiah kepada kalian berdua tanpa meminta dan mencari kemulian (uluran) seorang jiwa, maka terimalah dan jangan kamu tolak sehingga kamu akan menolak pemberian Allah.” Dan ini adalah hadiah dari Allah dan hadiah bagi orang yang ikut hadir.

Kemudian ia berkata: Wahai Lubabah, wahai Fulanah, wahai Fulanah, ia berteriak memanggil anak-anak perempuannya, dua saudarinya, isterinya, dan ibu isterinya. Ia duduk dan mendudukkanku sehingga kami berjumlah sepuluh orang. Lalu ia membuka kantong tersebut sembari berkata, “Bentangkanlah kain-kain pangkuan kalian.” Aku bentangkan kain pangkuanku sedangkan mereka tidak memiliki pakaian yang bisa dibentangkan kain pangkuannya sehingga harus membentangkan tangannya. Lalu ia mulai membilang dinar demi dinar, hingga apabila bilangan kesepuluh sampai kepadaku, ia berkata: “Bagimu dinar”, begitu seterusnya sampai ia menyelesaikan kantong yang berisikan seribu dinar itu, maka ia telah memberiku seratus dinar.

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata: Masuk ke dalam hatiku kegembiraan karena kecukupan mereka itu lebih besar dari pada kegembiraanku karena seratus dinar ini. Lalu ketika aku hendak keluar, ia berkata kepadaku: Wahai anak muda, engkau benar-benar diberkahi. Aku sama sekali tidak pernah melihat harta (sebanyak) ini dan tidak pula membayangkannya, dan aku menasehatimu bahwa harta tersebut halal, maka gunakanlah baik-baik. Ketahuilah, bahwa dahulu aku berdiri shalat fajar dengan mengenakan pakaian yang usang ini, kemudian aku melepaskannya hingga satu demi satu anak-anakku shalat mengenakannya. Kemudian aku keluar mengenakannya untuk bekerja sampai waktu antara Zhuhur dan ‘Ashar, lalu aku pulang di akhir siang dengan membawa sesuatu yang telah Allah bukakan untukku seperti kurma dan roti. Kemudian aku melepaskan pakaianku untuk anak-anak perempuanku sehingga mereka menunaikan shalat Zhuhur dan ‘Ashar dengannya. Demikian juga ketika Maghrib dan ‘Isya yang akhir. Kami sama sekali tidak tergambar akan bisa melihat dinar-dinar ini. Semoga Allah memberikan mereka manfaat dengan apa yang sudah mereka ambil, dan memberiku serta engkau manfaat dengan apa yang sudah kita ambil. Dan semoga Allah merahmati pemilik harta itu di dalam kuburnya, melipat gandakan ganjaran puteranya, dan membalas kebaikannya.

Ibnu Jarir berkata: Lalu aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya dan mengambil seratus dinar tersebut. Aku menulis ilmu dengan harta itu selama dua tahun. Aku makan dengannya, membeli kertas, safar, dan memberi upah dari sebagiannya…

Setelah dua belas tahun, aku pergi ke Mekah. Aku bertanya tentang kakek tua itu. Maka dikatakan bahwa dia telah meninggal sebulan setelah (kejadian) itu. Meninggal pula isterinya, ibu isterinya, dan dua saudarinya. Tidak ada yang tersisa kecuali anak-anak perempuannya. Maka aku bertanya tentang mereka, lalu aku mendapati mereka telah menikah dengan para penguasa dan umara’ dan itu ketika tersebar kabar tentang keshalehan anak-anak mereka di berbagai penjuru ufuk. Maka aku tinggal di rumah suami-suami mereka. Mereka memperlakukanku dengan ramah dan memuliakanku, hingga Allah mematikan mereka. Semoga Allah memberkahi apa yang sudah menjadi milik mereka.

Allah ta’ala berfirman:

ﺫﻟﻜﻢ ﻳﻮﻋﻆ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ، ﻭﻣﻦ ﻳﺘﻖ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺠﻌﻞ ﻟﻪ ﻣﺨﺮﺟﺎ ﻭﻳﺮﺯﻗﻪ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﻻ ﻳﺤﺘﺴﺐ ﻭﻣﻦ ﻳﺘﻮﻛﻞ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻬﻮ ﺣﺴﺒﻪ

“Demikianlah pengajaran itu, Allah berikan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Barang siapa bertawakkal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupkan kebutuhannya.”

Tafsir Surat ath-Thalaq ayat 2 dan 3

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy

http://forumsalafy.net/kisah-al-imam-ibnu-jarir-ath-thabari-dan-kakek-yang-fakir/

Minggu, 13 Agustus 2017

Al Qasim bin Muhammad rahimahullah

*kisah tabi'in*

*Al Qasim bin Muhammad rahimahullah*

Kota Madinah pernah menjadi saksi keberadaan fuqaha sab’ah (ahli fikih yang berjumlah 7 orang) yang mewarnai masa-masa keemasan Islam. Merekalah tujuh ahli fikih dari generasi tabiin yang menjadi penghulu para ulama dan rujukan kaum muslimin di masanya. Mereka adalah penerus tongkat estafet dakwah yang sebelumnya dibawa oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kapasitas keilmuan mereka tidak hanya diakui dan diperhitungkan oleh para ulama di kota tersebut namun juga para ulama di berbagai penjuru negeri.

Di antara ketujuh ahli fikih Madinah tersebut adalah Al Qasim bin Muhammad rahimahullah, cucu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu manusia terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Al Qasim adalah cucu Abu Bakar yang secara fisik paling mirip dengan kakeknya tersebut sebagaimana penuturan Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan Ali radhiyallahu ‘anhu dari pasangan Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan putri raja persia yang terakhir.

Al-Qasim kecil tumbuh dan berkembang ketika terjadi gejolak fitnah di tengah kaum muslim setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
Muncul perselisihan antara pihak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan pihak Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu yang berada di Syam. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dibawalah Al Qasim bersama saudara perempuannya ke Mesir. Yang demikian ini karena ayahanda beliau telah diangkat oleh Ali bin Abi Thalib menjadi pemimpin Mesir.

Namun saat itu kondisi fitnah semakin memanas dan berujung kepada terbunuhnya ayahanda beliau. Akhirnya datanglah paman Al Qasim yaitu Abdurrahman bin Abu Bakar untuk membawa beliau dan saudara perempuannya kembali ke Madinah. Di kota Nabi tersebut, Al Qasim diasuh dan dirawat oleh bibinya Aisyah radhiyallahu ‘anha sepeninggal ayahandanya. Al Qasim menjalani hidup sebagai seorang anak yatim dan diasuh oleh Ummul Mukminin Aisyah.

Qosim kecil diasuh dalam buaian Ummul Mukminin Aisyah sehingga ia pun mendalami ilmu agama dan banyak meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Seiring dengan perjalanan waktu, Al Qasim benar-benar terdidik oleh curahan kasih sayang dan ilmu dari bibinya tersebut. Al Qasim menuturkan bahwa Aisyah adalah seorang mufti (pemberi fatwa) semenjak dari zamannya Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum hingga beliau meninggal. Tidak mengherankan jika akhirnya Al Qasim menjadi seorang imam, panutan, Hafizh, Hujjah, seorang alim di Kota Madinah pada zamannya di samping Salim dan Ikrimah rahimahullah.

*GURU-GURU DAN MURID-MURIDNYA*

Menginjak usia dewasa, Al Qasim rahimahullah benar-benar menjelma menjadi seorang pemuda yang cerdas dan bertalenta tinggi. Waktu demi waktu pun berjalan sementara Al Qasim semakin matang ilmu dan kepribadiannya karena berkesempatan untuk menghadiri majelisnya para sahabat. Selain kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia juga berguru dan meriwayatkan hadis dari sekian banyak sahabat yang pernah beliau temui sepanjang hidupnya. Di antara mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Zainab bintu Jahsy, Fatimah bintu Qais, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Asma’ bintu ‘Umais yang merupakan nenek beliau sendiri, Abu Hurairah, Rafi’ bin Khadij, Abdullah bin Khabbab, Abdullah bin Amr, Mu’awiyah dan sahabat yang lainnya radhiyallahu ‘anhum. Al Qasim juga menegaskan bahwa beliau juga menimba ilmu dari lautan ilmu, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Beliau pun bermulazamah (menuntut ilmu) kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk memperbanyak riwayat dari keduanya. Sementara Ibnu Umar dikenal sebagai seorang sahabat mulia yang wara’ (berhati-hati dari dosa dan kesalahan), luas keilmuannya dan mengambil sikap diam terhadap berbagai hal yang tidak beliau ketahui ilmunya. Sehingga sifat-sifat gurunya tersebut melekat dan mewarnai kepribadaian Al Qasim bin Muhammad rahimahullah.

Tidak membutuhkan waktu yang panjang akhirnya Al Qasim menjadi seorang ulama besar di Kota Madinah. Tidak hanya keilmuannya yang mendalam yang membuat Al Qasim dicari dan disegani oleh kaum muslimin, namun juga karena ketakwaan dan sifat wara’ yang ada pada dirinya. Sehingga wajar jika murid-murid beliau sangat banyak dan di antaranya adalah putra beliau sendiri yang bernama Abdurrahman. Murid beliau yang lain adalah sederetan nama ulama-ulama besar seperti, Asy Sya’bi, Nafi’ Al Umari, Salim bin Abdillah, Abu Bakr bin Hazm, Az-Zuhri, Ibnu Abi Mulaikah, Humaid Ath Thawil, Ayyub As Sikhtiyani, Rabi’ah Ar Ray, Ubaidullah bin Umar, Ibnu ‘Aun, Rabi’ah bin Atha, Yahya bin Said Al Anshari, Abu Zinad, Ja’far bin Muhammad, Shalih bin Kaisan, dan masih banyak yang lainnya.

*PUJIAN PARA ULAMA*

Ibnu Sa’d rahimahullah memberikan sederet pujian kepada beliau dengan mengatakan, “Al Qasim adalah seorang yang terpercaya, berilmu, tinggi kedudukannya, ahli fikih, imam, wara’ dan banyak meriwayatkan hadis.” Yahya bin Said rahimahullah mengatakan, “Kami belum pernah mendapati seorang pun di Kota Madinah yang lebih kami utamakan daripada Al Qasim.” Ini menggambarkan tingginya kedudukan Al Qasim dalam pandangan para ulama mengingat di sana masih ada tokoh tabi’in senior seperti Said bin Al Musayyib atau yang lain.

Sikap wara’ juga sangat mewarnai kehidupan Al Qasim dalam bermuamalah. Salah satu buktinya adalah ucapan Ayyub As Sakhtiyani berikut ini, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih utama daripada Al Qasim. Sungguh ia pernah meninggalkan uang seratus ribu dinar padahal uang tersebut halal baginya.” Dalam kesempatan lain Umar bin Ubaidullah At Taimi mengutus seseorang untuk menghadiahkan uang sebanyak seratus lima puluh dinar kepada Al Qasim namun beliau menolaknya.

Berkata Abu Zinad rahimahullah, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih mengetahui tentang sunnah daripada Al Qasim bin Muhammad. Seseorang tidaklah dianggap sebagai seorang lelaki hingga dia mengetahui Sunnah dan belum pernah melihat seorang lelaki yang lebih cemerlang akalnya daripada Al Qasim.” Ibnu Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang paling mengetahui hadisnya Aisyah ada tiga orang, “Al Qasim, Urwah, dan Amrah.”

Keilmuan beliau yang luas dengan ketenaran dan berbagai pujian di atas tidak membuat Al Qasim sombong dan bangga diri. Justru beliau sangat jauh dari sifat tersebut dan penuh dengan ketawadhuan. Simak penuturan Ibnu Ishaq berikut ini, “Aku pernah melihat Al Qasim bin Muhammad mengerjakan salat dan setelah selesai datanglah seorang Arab badui lantas dia bertanya, “Siapa di antara kalian berdua yang lebih berilmu. Engkau atau Salim?” Al Qasim pun menjawab, “Subhanallah, masing-masing akan memberikan jawaban kepadamu sesuai dengan pengetahuannya.” Orang itu kembali bertanya, “Siapa di antara kalian berdua yang lebih berilmu?” Ia menjawab, “Subhanallah!” Badui itu terus mengulangi pertanyaannya hingga akhirnya Al Qasim berkata, “Itu Salim, pergi dan bertanyalah kepadanya.” Ia pun bangkit dan pergi meninggalkannya. Ibnu Ishaq mengomentari kisah ini, “Al Qasim tidak suka mengatakan, ‘Aku lebih berilmu’ sehingga menjadi tazkiyah (rekomendasi) untuk diri beliau sendiri. Beliau juga tidak suka mengatakan, ‘Salim lebih berilmu daripada aku.’ Karena dengan demikian Al Qasim telah berdusta karena ia lebih berilmu daripada Salim.”

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Al Qasim adalah ahli fikihnya umat ini.” Al ‘Ijli rahimahullah berkata, “Al Qasim termasuk salah satu tabi’in dan ahli fikih terbaik. Ahli Madinah, tabi’in, terpercaya, sosok yang bersih dari hal-hal yang tidak baik, dan lelaki yang saleh.”

*UNTAIAN NASIHATNYA*

Yahya bin Sa’id rahimahullah berkata bahwa aku pernah mendengar Al Qasim bin Muhammad berkata, “Seseorang hidup dalam keadaan bodoh setelah mengetahui hak Allah subhanahu wa ta’ala itu lebih baik baginya daripada dia mengucapkan sesuatu yang tidak dia ketahui.” Suatu hari ada seorang pembesar Kota Madinah yang datang menemui Al Qasim lantas menanyakan sesuatu kepadanya. Maka Al Qasim pun berkata, “Sesungguhnya di antara bentuk pemuliaan seseorang terhadap dirinya sendiri adalah dia tidak berucap melainkan apa yang dia ketahui ilmunya.” Beliau juga mengatakan, “Allah telah menjadikan pada diri seorang teman yang baik lagi dekat dengan kita sebagai pengganti dari kerabat yang durhaka lagi berpaling.”

Beliau juga memiliki akidah yang lurus dan kokoh dalam menegakkan amar makruf nahi munkar. Ikrimah bin Ammar mengatakan, “Aku pernah mendengar Al Qasim dan Salim melaknat orang-orang Qadariyah.”

*AKHIR HAYATNYA*

Al Qasim meninggal pada tahun 108 H dalam usia 70 tahun di sebuah wilayah yang bernama Qudaid. Yaitu sebuah tempat di jalan antara Mekkah-Madinah, yang berjarak sekitar 27 mil dari Juhfah (Miqat penduduk Syam). Beliau sempat mengalami kebutaan di akhir hayatnya dan meninggal pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik bin Marwan. Beliau berwasiat supaya beliau dikuburkan dengan baju yang biasa digunakan untuk salat bersama dengan gamis dan rida’nya sebagaimana kakek beliau Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu dikafani dan dimakamkan. Al Qasim juga berwasiat agar kuburannya tidak dibangun. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala melimpahkan rahmat dan ampunan kepada Al Qasim bin Muhammad rahimahullah serta kita semua. Aamiin.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 39 vol.04 2016 rubrik Biografi. Pemateri: Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah hafizhahullah

Ilmusyari.com

Minggu, 06 Agustus 2017

Kisah Menakjubkan Dalam Tawakkal Kepada Allah

✋🏻💥🌺🌹 *KISAH MENAKJUBKAN DALAM TAWAKAL KEPADA ALLAH*

_Hasrat hatinya untuk berhaji di suatu tahun, dalam keadaan tidak memiliki biaya haji._

Hatim Al-Asham (yang tuli) rahimahullah termasuk pembesarnya orang shalih, hatinya berkeinginan untuk haji pada suatu tahun dalam keadaan dia tidak memiliki biaya. Dia tidak boleh safar, bahkan tidak wajib berhaji tanpa meninggalkan nafkah kepada anak-anak yang mereka tidak ridha.

Dan ketika tiba saatnya (berhaji), putrinya melihatnya dalam keadaan sedih dan menangis, putrinya memang anak yang shalih.
*Maka ia berkata kepada ayahnya:* Apa yang membuatmu bersedih wahai ayahku?
*Ayahnya menjawab:* Musim haji telah datang.
*Putrinya berkata*: Kenapa engkau tidak berhaji? 
Ayahnya menjawab: Tidak memiliki biaya.
*Putrinya berkata:* Allah akan memberi dirimu rezeki.
*Sang Ayah berkata:* Bagaimana nafkah kalian?
*Putrinya menjawab:* Allah akan memberikan rezeki kepada kami.
Sang ayah berkata: Akan tetapi urusan ini tergantung ibumu.

*Maka sang putri pergi menghadap ibunya untuk mengingatkan ibunya. Dan akhirnya sang ibu dan anak-anaknya yang lain mengatakan kepada sang ayah:* Pergilah engkau berhaji, Allah akan memberikan rezeki kepada kami.

Maka iapun meninggalkan nafkah untuk tiga hari, diapun pergi berangkat haji dalam keadaan dia tidak memiliki biaya yang mencukupi.

Adalah dia berjalan di belakang suatu kafilah rombongan. Di awal perjalanan pimpinan kafilah disengat kalajengking, maka mereka mencari orang yang bisa meruqyahnya dan mengobatinya. Maka mereka menemukan Hatim Al-Asham. Maka diapun meruqyahnya dan Allah menyembuhkannya di saat itu.

*Maka pimpinan kafilah mengatakan:* Biaya berangkat dan pulang (berhaji) saya yang tanggung.

*Maka Hatim berkata*: Ya Allah ini adalah kemudahan untukku, maka perlihatkanlah kemudahan untuk keluargaku.

Telah berlalu tiga hari, maka habislah nafkah pada anak-anaknya,rasa lapar mulai meliputi mereka. Maka mereka mulai menyalahkan sang putri dan sang putri malah tertawa.

*Mereka berkata:* Apa yang membuatmu tertawa sementara kelaparan hampir-hampir membunuh kita?
*Sang putri berkata:* Ayah kita ini yang memberi rezeki atau yang memakan rezeki?
Mereka menjawab: Yang memakan rezeki, sesungguhnya yang memberi rezeki hanya Allah.
*Sang putri berkata*: _Telah pergi yang memakan rezeki dan tetap ada (bersama kita) yang memberi rezeki._
_Sang putri terus mengajak mereka bicara._

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. *Mereka berkata*: Siapa di pintu? *Orang yang mengetuk menjawab:* Amirul mukminin meminta minum kepada kalian.
Maka sang putri mengisi penuh gentong airnya, dan khalifahpun minum, kemudian ia mendapatkan kelezatan dalam air tersebut yang belum pernah dia rasakan.
*Maka khalifah berkata:* Darimana kalian mendapatkan air ini? *Mereka menjawab*: Dari rumahnya Hatim.
*Khalifah berkata:* Panggillah dia, aku akan memberinya hadiah.
Mereka menjawab: Hatim sedang berhaji.
Maka amirul mukminin melepaskan sabuk mewahnya yang penuh dengan hiasan permata, *lalu ia mengatakan:* Sabuk ini untuk mereka.
*Kemudian ia berkata kembali:* _Barang siapa yang menyukai diriku, maka lakukanlah seperti aku!_ 

Maka seluruh menteri dan para saudagar ikut melepaskan sabuk mewah mereka. Maka terkumpullah sabuk-sabuk mewah lalu dibeli oleh salah seorang pedagang dengan uang emas yang memenuhi rumah yang bisa mencukupi mereka hingga wafat. Lalu sabuk-sabuknya dikembalikan kepada mereka.

Merekapun membeli makanan dalam keadaan tertawa, lalu menangislah sang putri!
*Maka sang ibu berkata kepadanya:* Kamu ini aneh wahai putriku, dulu ketika kita menangis karena  kelaparan engkau malah tertawa, ketehuilah sekarang Allah memberikan kemudahan kepada kita, mengapa engkau menangis?
*Sang putri berkata:* _Makhluk ini yang tidak mampu memberikan manfaat kepada dirinya tidak pula mencegah mudharat (yakni khalifah) telah memandang kita dengan pandangan kebaikan, yang bisa menyelamatkan kita dari kematian. Terus bagaimana dengan pandangan Rajanya segala raja (yakni Allah Ta'ala)?_

Sesungguhnya ini adalah keyakinan kepada Allah. Yakin dengan Dzat yang memberi rezeki, yang maha kuat dan perkasa. Sesungguhnya ini adalah kekuatan iman, kekuatan tawakal kepada Allah.  Maha suci Allah dimana kita dibandingkan mereka?!

Ketika Allah memilihmu untuk menempuh jalan petunjuk-Nya bukan karena engkau istimewa atau karena ketaatanmu. Bahkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu. Terkadang Dia bisa melepaskannya darimu  kapan saja.

Oleh karena itu janganlah engkau tertipu dengan amalanmu, janganlah engkau tertipu dengan ibadahmu, janganlah engkau memandang remeh orang-orang yang tersesat dari jalan-Nya. 

Maka kalau bukan karena rahmat Allah kepadamu niscaya engkau menduduki posisi dia.

*Ulangilah lagi membacanya dengan seksama.*

*Laa ilaaha illallahu*

📚 *Sumber* || https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=137426

🌏 *Kunjungi* || http://forumsalafy.net/kisah-menakjubkan-dalam-tawakal-kepada-allah/

⚪ *WhatsApp Salafy Indonesia*
⏩ *Channel Telegram* || http://telegram.dog/forumsalafy

💎💎💎💎💎💎💎💎💎

Kamis, 22 September 2016

Kisah Shilah dan Seekor Singa

💎🎗🐾KISAH SHILAH DAN SEEKOR SINGA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Untaian kisah para ulama salafush shalih memang sangat mengagumkan.Kisah yang sarat dengan berbagai pelajaran.Mereka adalah sosok dan figur suri tauladan pilihan bagi generasi setelahnya.

Salah satu diantara mereka adalah seorang tokoh tabi'in(generasi setelah sahabat) dari kota Basrah yang bernama Shilah bin Asyam Al-'Adawi Rahimahullah, Terkumpul pada diri beliau semangat yang sangat tinggi dalam beribadah dan berjihad.Memang demikian realitanya, hingga Adz-Dzahabi Rahimahullah mengatakan bahwa beliau adalah seorang zahid(seorang yang zuhud) dan abid( ahli ibadah).
Shilah mengisi malam-malamnya dengan sholat malam. Bahkan tatkala melakukan safar sekalipun.

Sepenggal kisah berikut ini menjadi fakta keberanian dan semangat beliau dalam beribadah. Diriwayatkan dari Hamad bin Ja'far bin Zaid bahwa bapaknya, Ja'far bin Zaid, pernah berkisah tentang Shilah bin Asyam Rahimahullah.Kisah selengkapnya adalah berikut ini.

Saat itu kami berangkat bersama pasukan kaum muslimin menuju kota Kabul dalam sebuah pertempuran. Di antara personil pasukan itu adalah Shilah bin Asyam. Memang Shilah terkenal sebagai seorang ahli ibadah di kalangan kaum muslimin.
Tatkala datang waktu shalat Isya',kamipun singgah di suatu tempat untuk istirahat dan shalat.

Akupun berkata(dalam hati), " Sungguh aku benar-benar akan mengawasi amalan apa saja yang dilakukan oleh Shilah.Aku ingin membuktikan cerita orang-orang selama ini tentang ibadahnya."Setelah tiba ditempat tersebut, kamipun menunaikan shalat Isya". Tidak berapa lama kemudian kami beristirahat karena rasa letih setelah melakukan perjalanan.

Setelah seluruh pasukan nampak tertidur, aku memanfaatkan kesempatan ini.Aku segera beranjak diam-diam mencari Shilah. Saat pandangan manusia terpejam, saat itulah Shilah bangkit.Beliau lalu masuk menuju suatu tempat yang lebat dan rindang penuh dengan pepohonan.Nampaknya, tempat itulah yang hendak digunakan shalat.
Tempat yang tidak jauh dari tempat peristirahatan, namun tertutup.
Subhanallah, Shilah melakukan hal tersebut supaya keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain. Sungguh beliau ingin menjaga keikhlasan amalan untuk Allah Ta'ala dalam ibadahnya

Akupun menguntitnya dari belakang tanpa sepengetahuan Shilah. Tibalah beliau di sebuah tempat yang sunyi.Shilah lalu berwudhu dan mulai mengerjakan shalat. Aku terus mengamati, hingga Shilah tenggelam dalam shalatnya. Dalam kondisi demikian, tiba-tiba datanglah seekor singa dari arah hutan itu. Akupun terkejut dan panik bukan kepalang melihat kedatangan binatang itu. Hingga aku putuskan untuk memanjat pohon supaya aman dari terkamannya.

Singa itu terus berjalan dan mendekat ke arah beliau. Sungguh beliau tidak menoleh sedikitpun kepada singa tersebut. Padahal jaraknya sudah begitu dekat. Tatkala beliau sujud, akupun berkata dalam hatiku,  "Sekarang dia pasti diterkam".
Namun ternyata dugaanku salah. Beliau masih dibiarkan sampai duduk tasyahud dan salam. Saat itulah Shilah berkata kepada singa itu, "Wahai binatang buas, carilah rezeki di tempat lain!" Singa itupun pergi dan terus meraung seraya naik ke atas pegunungan.

Keesokan harinya di waktu shubuh, Shilah memuji Allah Ta'ala dengan berbagai pujian yang belum pernah aku dengar, Beliau mengatakan, "Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar menyelamatkanku dari api neraka.
Namun, pantaskah orang seperti aku ini meminta kepada-Mu agar dimasukan ke dalam surga?" Kemudian setelah itu beliau kembali ke pasukan seolah-olah baru saja tidur di atas kasur.
Sementara aku sangat capek dan lelah, karena kejadian semalam yang membuatku tidak tidur. Hanya Allah Ta'ala Yang Maha Mengetahui kondisiku. Demikianlah salah satu potret ibadah dalam safar beliau.

Allah Ta'ala telah menganugrahkan istri dan anak-anak yang sholih kepada Shilah bin Asyam Rahimahullah. Betapa tidak, istrinya yang bernama Mu'adzah juga dikenal sebagai seorang wanita ahli ibadah dan zuhud. Sang putra adalah seorang pemberani sering menyertai ayahnya dalam jihad melawan musuh-musuh Islam.

Dikisahkan oleh Tsabit Al-Bunani, bahwa Shilah pernah ikut dalam sebuah peperangan. Putranya pun turut menyertai beliau. Saat kedua pasukan saling berhadapan, dan perang pun tak terelakkan, tiba-tiba Shilah mengatakan kepada putranya, "Wahai anakku, majulah dan perangilah mereka, sehingga aku bisa mengharap pahala kepada Allah Ta'ala!"

Tanpa keraguan sedikitpun, pemuda itu maju berperang hingga akhirnya meninggal di medan tempur.Demikian halnya sang ayah, ia masuk kedalam kancah pertempuran dan berperang sampai akhirnya meninggal dunia.

Tatkala berita duka itu sampai kepada istrinya di Bashrah, para wanita datang dan berkumpul di rumahnya untuk mengucapkan belasungkawa.Namun, Mu'adzah berkata kepada mereka, "Jika kedatangan kalian untuk mengucapkan selamat, (maka aku akan menerima kalian dengan senang hati) ,Namun jika kedatangan kalian untuk selainnya (yaitu belasungkawa) ,maka sebaiknya kalian pulang saja." Subhanallah, semoga Allah Ta'ala merahmati dan mencurahkan pahala-Nya kepada Shilah bin Asyam rahimahumullah beserta dengan keluarganya. Amin.

Oleh:Al Ustadz Abu Hafiy Abdullah hafizhahullah

📝 Ditulis dari :Majallah Qudwah,Edisi 28 Vol.03

🌈@LilHuda🌈
🔻🔻🔻🔻🔻

📬 Telegram Ahkam, Tanya jawab
📲 tlgrm.me/LilHuda

💠🔶🔶🔶🔶💠🔶🔶🔶💠
#shilah   #seekorsinga

Senin, 19 September 2016

Nabi Palsu Yang Bertaubat

💥🎗NABI PALSU YANG BERTAUBAT
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

23 JUNI 2016 

Dalam bidang hadits, sering disebutkan tentang  definisi dari shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam`. Mereka  adalah setiap orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam `, beriman kepada beliau dan mati diatas keimanan tersebut, walaupun di sebagian kehidupannya pernah terjatuh dalam riddah kemudian kembali kepada Islam. Demikian definisi yang sesuai dengan pendapat yang paling benar. Mereka tetaplah lebih utama dari generasi setelah mereka, dikarenakan termasuk dalam keumuman pujian Allah Ta'ala dan Rasul-Nya atas mereka. radhiyallah anhum ajmain

Figur kita kali ini adalah salah satu dari figur seorang shahabat, yang pernah terjatuh dalam riddah kemudian kembali ke pangkuan Islam dan menjadi baik keislamannya. Ia bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal bin Nadhlah bin Al Asytar bin Hajwaan bin Faq’as Al Asady Al Faq’asii. Seorang penunggang kuda yang lihai dan terkenal dengan keberaniannya. Kisah keislamannya di mulai sejak tahun kesembilan hijriyyah, setelah peristiwa fathu Makkah. Saat itu masyarakat arab berbondong-bondong menyatakan keislaman mereka, termasuk Bani Al Asady, sebuah kabilah besar yang bermukim di antara Nejed dan Furrath. Mereka mengutus sekelompok orang sebagai wakil mereka kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam `. Orang-orang yang diutus tersebut di antaranya bernama Hadhrami bin ’Aamir, Dharar bin AL Azwar, Waabishah bin Ma’bad, Qatadah bin Qaif, Salamah bin Hubais dan Thulaihah bin Khuwailid. Merekapun menyatakan keislaman mereka dihadapan Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam`.

Saat meninggalnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di tahun 11hijriyyah, banyak kabilah arab yang menyatakan murtad dan tidak mau tunduk terhadap aturan yang dahulu pernah di tetapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam`. Kesempatan inipun kemudian di pakai oleh Thulaihah Al Asadi untuk menyatakan dirinya secara terang-terangan sebagai Nabi di daerah Nejed. Sebenarnya pengakuan Nabi tersebut telah ia ikrarkan sekian waktu sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ` meninggal dunia. Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengutus Dhirar bin Al Azwar radhiyallahu 'anhu sebagai pemimpin kabilah untuk mempersempit dan memberangus sang Nabi palsu tersebut, namun tidak tercapai hingga saat wafatnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam`, Thulaihah merasa mendapat angin dengan pengakuannya ini. Iapun disambut oleh masyarakatnya dan menjadi begitu kuat posisinya, terlebih lagi Di zaman Jahiliyyah, Thulaihah Al asadi  terkenal sebagai seorang dukun terkemuka. Banyak didatangi dan dimintai nasehat. Profesinya ini telah mengangkat figur dan ketokohan Thulaihah di tengah masyarakat pada saat itu. Maklum, saat itu masyarakat Jahiliyyah senang dengan ramalan-ramalan dukun dan tukang sihir. Sehingga posisi Thulaihah begitu kuat di mata masyarakatnya.

Langkah-langkah strategis dalam mengokohkan pengakuannya pun dilakukan, seperti membuat aturan-aturan yang menyelisihi aturan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ` seperti menolak membayar kewajiban zakat yang diminta oleh utusan Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu 'anhu, sebagai khalifah pengganti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam `. Ia pun disambut oleh beberapa kabilah besar seperti kabilah Bani Asad, Ghathafan, dan Bani Thayyi dan sebagian kabilah-kabilah di sekitar Madinah. Dalam perjalanannya mengaku sebagai nabi, Iapun pernah membunuh dua orang shahabat Nabi yang shalih yaitu Ukasyah bin Mihshan Al Asadi dan Tsabit bin Arqam radhiyallahu 'anhuma.

Maka Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallah 'anhu pun murka terhadap Thulaihah yang terang-terangan mengaku Nabi dan merongrong Islam serta pemeluknya. Beliaupun mengutus sepasukan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu untuk menumpas Thulaihah dan pengikutnya. Saat itu mayoritas pasukan kaum muslimin yang dipimpin Usamah bin Zai radhiyallahu 'anhum sedang dalam perjalanan memerangi pasukan Romawi. Oleh karena itu, secara kuantitas pasukan kaum muslimin jauh lebih kecil jumlahnya dibanding pasukan Thulaihah.

Akan tetapi dengan pertolongan Allah Ta'ala pasukan Islam dapat memukul mundur dan memporak porandakan barisan Nabi palsu tersebut dan menyebabkan Thulaihah melarikan diri dan terasing di Negeri Syam. Kemenangan atas pasukan nabi palsu ini tentunya mengangkat wibawa muslimin di jazirah Arab. Kabilah-kabilah yang sudah berniat
untuk murtad pun akhirnya mengurungkan niat dan tetap memilih tunduk terhadap Islam.

Taubat yang Merubah Kehidupan

Dahulu ia di laknat kemudian dimuliakan, itulah gambaran yang mungkin muncul tentang beliau. Di laknat sebab pengakuan kenabian yang dilakukannya, dimuliakan karena meninggal dalam keadaan syahid , membela Agama Allah azza wajalla.

Setelah melarikan diri ke Syam, Thulaihah akhirnya sadar dan bertobat kepada Allah Ta'ala. Iapun menunaikan haji ke Baitullah di akhir masa kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Tobat beliau inipun beliau realisasikan dengan sungguh-sungguh. Kalau dahulu ia begitu gigih dalam menguatkan dan membela pengakuannya, maka setelah bertobat iapun gigih berjuang membela dan meninggikan agama Allah Ta'ala. Pada perang Qadisiyyah beliau menjadi salah seorang singa-singa Allah Ta'ala. Ia berhasil memporak porandakan markas musuh dan bahkan membunuh dua komandan musuh dan menawan salah satu pemimpin mereka. beliau juga mengikuti perang Nahawand, saat itu beliau menjadi tilik sandi bagi kaum muslimin dan mampu memberikan hasil akurat tentang keadaan musuh.

Disebutkan bahwa beliau meninggal sebagai syahid di akhir-akhir pertempuran Nahawand di tahun 21 hijriyyah. Radhiyallah anhu.

💻Sumber: http://tashfiyah.com

🌈@LilHuda🌈
🔻🔻🔻🔻🔻

📬 Telegram Ahkam, Tanya jawab
📲 tlgrm.me/LilHuda

💠🔶🔶🔶💠🔶🔶🔶💠
#nabipalsu  #thulaihah   #bertobat

Jumat, 09 September 2016

Kisah Perang Bani Nadhir


⚔🛡🗡KISAH PERANG BANI NADHIR
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sejak jaman dahulu, bangsa Yahudi memang dikenal sebagai ahli makar. Pembunuhan terhadap para Nabi dan kekejian lainnya tidak lepas dari tangan-tangan mereka. Berbagai peperangan yang muncul di jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga lahir dari persekongkolan jahat mereka. Salah satunya adalah Peperangan Bani Nadhir.

Sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, sudah ada tiga kabilah besar bangsa Yahudi yang menetap di negeri tersebut. Mereka adalah Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah. Masing-masing kabilah ini mempunyai sekutu dari kalangan penduduk asli Madinah yaitu Aus dan Khazraj. Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj, sedang-kan Bani Quraizhah menjadi sekutu Aus.
Setiap kali terjadi peperangan di antara mereka dengan sekutu masing-masing, orang-orang Yahudi mengancam kaum musyrikin (Aus dan Khazraj) ketika itu dengan mengatakan: “Sudah tiba masanya kedatangan nabi kami. Dan kami akan memerangi kalian seperti memerangi ‘Ad dan Iram.”
Ketika muncul Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari kalangan Quraisy, berimanlah Aus dan Khazraj. Sementara orang-orang Yahudi justru kafir kepada beliau. Tentang merekalah turunnya firman Allah Ta'ala :

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur`an dari Alla Ta'ala yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, namun setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (Al-Baqarah: 89)

Bani Nadhir adalah salah satu kabilah terbesar bangsa Yahudi yang bermukim di sebelah selatan Madinah sebelum keda-tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka pun kafir kepada beliau bersama orang-orang kafir Yahudi lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri mengadakan ikatan perjanjian dengan seluruh golongan Yahudi yang menjadi tetangga beliau di Madinah.

Sebab-sebab Terjadinya Peperangan
Ketika perang Badr usai, enam bulan setelah peristiwa besar tersebut1, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menemui dan meminta mereka agar membantu beliau dalam urusan diyat (tebusan) orang-orang Bani Kilab yang dibunuh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamari. Merekapun berkata: “Kami akan bantu, wahai Abul Qasim (maksudnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, red.). Duduklah di sini sampai kami selesaikan keperluanmu!”
Kemudian sebagian mereka memencil-kan diri dari yang lain. Lalu setan membi-sikkan kepada mereka ‘kehinaan’ yang telah ditakdirkan atas mereka. (Dengan bisikan itu) mereka mencoba melakukan intrik keji untuk membunuh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka berkata: “Siapa di antara kalian yang memegang penggilingan ini, lalu naik ke loteng dan melemparkannya ke kepalanya sampai remuk?”
Orang paling celaka dari mereka, ‘Amr bin Jihasy, berkata: “Aku.”
Namun Sallam bin Misykam berkata kepada mereka: “Jangan lakukan. Demi Allah Ta'ala, pasti Dia akan membongkar apa yang kalian rencanakan terhadapnya. Sungguh, ini artinya melanggar perjanjian antara kita dengannya.”
Lalu datanglah Jibril menceritakan persekongkolan busuk mereka. Beliaupun bangkit dengan cepat dan segera menuju ke Madinah. Para shahabatpun menyusul beliau dan berkata: “Anda bangkit tanpa kami sadari?” Beliau pun menceritakan rencana keji orang-orang Yahudi itu atas beliau.
Setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim utusan kepada mereka untuk memerintah-kan: “Keluarlah kalian dari Madinah dan jangan bertetangga denganku di sini. Aku beri waktu sepuluh hari. Siapa yang masih kedapatan di Madinah setelah hari itu, tentu aku tebas lehernya.”
Akhirnya mereka mempersiapkan diri selama beberapa hari. Datanglah kepada mereka gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul, sembari mengatakan: “Janganlah kalian keluar dari rumah kalian. Karena saat ini aku memiliki sekitar dua ribu pasukan yang siap bertahan bersama di benteng kalian ini. Mereka siap mati membela kalian. Bahkan Bani Quraizhah serta para sekutu kalian dari Ghathafan tentu akan membela kalian.”

Akhirnya Huyai bin Akhthab (pemimpin Bani Nadhir, red.) tergiur dengan bujukan ini dan mengutus seseorang kepada Rasululla shallallahu 'alaihi wa sallam, mengatakan: “Kami tidak akan keluar dari kampung (rumah-rumah) kami. Berbuatlah sesukamu.”

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahaba radhiyallahu 'Ta'ala 'anhum bertakbir, lalu berangkat menuju perkampungan mereka. Saat itu, ‘Ali bin Abi Thalib lah yang membawa bendera beliau.
Merekapun mengepung benteng Yahudi ini dan melemparinya dengan panah dan batu. Ternyata Bani Quraizhah mening-galkan Bani Nadhir. Bahkan sekutu mereka, Ibnu Ubay dan Ghathafan juga mengkhianati mereka.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengepung mereka selama enam hari. Beliau menebang pokok-pokok (pohon) kurma milik mereka dan membakarnya.
Kemudian orang-orang Yahudi itu mengutus seseorang untuk memohon: “Kami akan keluar dari Madinah.”
Beliau akhirnya memperkenankan mereka keluar dari kota itu dengan hanya membawa anak-cucu mereka serta barang-barang yang dapat diangkut seekor unta kecuali senjata. Dari sinilah kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat memperoleh harta dan senjata.
Seperlima bagian dari rampasan perang Bani Nadhir ini tidak dibagikan, dikhususkan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengganti beliau (para pemimpin, khalifah, -pent.) demi kepentingan kaum muslimin. Karena Allah Ta'ala telah memberikannya kepada beliau sebagai fai’, tanpa kaum muslimin mengerahkan seekor kuda ataupun unta untuk mendapatkannya.

Akhirnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengusir mereka termasuk pembesar mereka, Huyai bin Akhthab, ke wilayah Khaibar. Beliau menguasai tanah dan rumah-rumah berikut senjata. Ketika itu diperoleh sekitar 50 perisai, 50 buah topi baja, dan 340 bilah pedang. Inilah kisah mereka yang diuraikan oleh sejumlah ahli sejarah.

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan tentang hal ini:

Dari ‘Umar radhiyallahu 'anhu, katanya: “Harta Bani Nadhir merupakan harta fai’ yang Allah Ta'ala berikan kepada Rasul-Nya , tanpa kaum muslimin mengerahkan kuda dan unta untuk memperolehnya. Harta itu milik Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara khusus. Beliau menginfakkannya untuk keluarganya sebagai nafkah selama setahun, kemudian sisanya berupa senjata dan tanah sebagai persiapan bekal (jihad) di jalan Alla Ta'ala.”

Beberapa Pelajaran dari Kisah Ini
Berkaitan dengan peristiwa ini, Allah Ta'ala turunkan awal surat Al-Hasyr (1-5) dan ditegaskan pula oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Al-Maghazi dan Tafsir Al-Qur`an) dari Ibnu ‘Abbas :

Dari Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Aku berkata kepada Ibnu ‘Abbas: ‘Surat Al-Hasyr.’ Kata beliau: “Katakanlah: ‘Surat An-Nadhir’.”

Allah Ta'ala berfirman:
“Bertasbih kepada Allah Ta'ala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama kali. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) AllahTa'ala. Maka Allah  Ta'ala mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah Ta'ala benamkan rasa takut ke dalam hati mereka; mereka musnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (peristiwa itu) sebagai pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidaklah karena Allah Ta'ala telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah Ta'ala mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Barangsiapa menentang Alla Ta'ala, maka sesungguhnya Allah Ta'ala sangat keras hukuman-Nya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah Ta'ala; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menerangkan makna ayat ini dalam tafsirnya sebagai berikut:
Allah Ta'ala mengawali surat ini dengan penjelasan bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih memuji Rabbnya, mensucikan-Nya dari semua perkara yang tidak sesuai dengan kemuliaan-Nya, menghambakan diri dan tunduk kepada kebesaran-Nya. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Perkasa lagi Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang dapat menghalangi-Nya serta tidak ada sesuatupun yang sulit bagi-Nya. Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Mempunyai hikmah, dalam penciptaan dan perintah-Nya. Tidaklah Allah Ta'ala menciptakan segala sesuatu ini dengan sia-sia. Dan Dia tidak menetapkan syariat yang tidak mengandung kemas-lahatan.
Allah Ta'ala tidak berbuat kecuali sesuai dengan hikmah-Nya. Termasuk dalam hal ini adalah pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya atas orang-orang kafir ahli kitab dari Bani Nadhir yang melanggar perjanjian dengan Rasul-Nya. Maka Allah Ta'ala keluarkan mereka dari rumah dan tempat tinggal yang mereka cintai. Pengusiran mereka ini merupakan pengusiran pertama yang ditetapkan Allah Ta'ala atas mereka melalui tangan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka diusir hingga ke Khaibar.

Ayat yang mulia ini memberi isyarat bahwa pengusiran mereka tidak hanya terjadi dalam peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengusir mereka sekali lagi dari Khaibar. Juga di masa pemerintahan ‘Umar radhiyallahu 'anhu yang mengeluarkan seluruh Yahudi dari jazirah Arab.
Firman Allah Ta'ala : (Kamu tiada menyangka), wahai kaum muslimin.
Dan firman Allah Ta'ala :(bahwa mereka akan keluar).
Yakni, keluar dari rumah mereka karena kuatnya benteng pertahanan mereka dan mereka merasa mulia di dalamnya.
Firman Allah Ta'ala :
(dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah Ta'ala ).
Artinya, kokohnya pertahanan mereka ini membuat mereka bangga. Namun hal ini justru memperdaya mereka. Mereka merasa tidak akan mungkin bisa dikalahkan dan tidak ada satupun yang sanggup menghadapi mereka. Padahal kekuasaan Allah Ta'ala ada di balik itu semua. Benteng mereka sama sekali tidak dapat melepaskan diri mereka dari adzab Allah Ta'ala. Dan kekuatan pertahanan mereka sedikitpun tidak berguna bagi mereka.
Karena itulah Allah Ta'ala menyatakan:   (maka Allah Ta'ala men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka).
Tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka bahwa mereka akan didatangi dari arah tersebut.
Firman Allah Ta'ala :  (Dan Allah Ta'ala benamkan ketakutan ke dalam hati mereka).
Yaitu rasa takut yang sangat hebat. Rasa takut ini merupakan tentara Allah Ta'ala paling besar, yang tidak mungkin dilawan dengan jumlah dan persenjataan sebesar apapun. Tidak mungkin dihadapi oleh kekuatan dan kehebatan yang bagaimana-pun.

Kalaupun kekalahan menimpa mereka dari arah tertentu, mereka beranggapan bahwa itu tidak lain karena benteng pertahanan mereka. Mereka merasa tenteram dengan kekokohannya. Padahal, siapa yang mempercayakan sepenuhnya kepada selain Allah Ta'ala, dia pasti akan terhina. Dan siapa yang bersandar kepada selain Allah Ta'ala pasti hal itu menjadi bencana atasnya.
Maka datanglah ketetapan dari langit yang menerpa hati sanubari mereka yang sebenarnya merupakan lahan keteguhan dan kesabaran atau kelemahan. Allah Ta'ala lenyapkan kekuatan dan kekokohan hati itu, dan membiarkan kelemahan serta ketakutan bertahta di dalamnya. Alhasil, tidak ada lagi tipu daya serta kekuatannya. Dan keadaan ini justru menjadi kemenangan kaum mukminin atas mereka.

Oleh karena itulah, Allah Ta'ala menyatakan:  (mereka musnahkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman).
Semua itu karena mereka pernah mengadakan kesepakatan dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka boleh membawa barang-barang yang dapat diangkut seekor unta. Karena itulah mereka menghancurkan atap-atap rumah yang masih mereka anggap baik. Mereka berikan keleluasaan bagi kaum mukminin –akibat kejahatan mereka sendiri– untuk menghancurkan rumah dan benteng-benteng mereka. Dengan demikian, sesungguhnya mereka sendirilah yang berbuat jahat terhadap diri mereka. Jadilah mereka sendiri yang mempunyai andil besar dalam kekalahan dan kehinaan tersebut.

Firman Allah Ta'ala:  (Maka ambillah (peristiwa itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan).
Artinya, bashirah yang tajam, akal yang sempurna. Karena sesungguhnya di dalam kejadian ini terdapat pelajaran yang membantu mengenal bagaimana Allah Ta'ala bertindak terhadap orang-orang yang keras kepala dan menentang kebenaran (Al-Haq), serta mengikuti hawa nafsunya. Kemuliaan mereka tidak lagi berguna. Kekuatan mereka pun tidak mampu menolong mereka. Bahkan benteng mereka tidak dapat melindungi sedikitpun ketika keputusan Allah Ta'ala datang kepada mereka. Hukuman atas dosa-dosa mereka pun menimpa mereka.
Pelajaran (hukum) yang diambil berdasarkan keumuman lafadz suatu nash (ayat atau hadits) bukan berdasarkan sebab yang khusus. Sehingga, dapat dipahami bahwa ayat yang mulia ini merupakan alasan (dalil) adanya perintah untuk melakukan i’tibar (perbandingan, mengam-bil pelajaran). Termasuk di sini menilai suatu hal dengan hal yang semisal dengannya, atau menganalogikan (kias) suatu perkara dengan yang menyerupainya. Juga mere-nungkan makna dan hukum yang terdapat di dalam ketetapan-ketetapan tersebut. Di sinilah letak peranan akal dan pikiran. Melalui hal ini, pemahaman akan semakin bertambah, bashirah semakin terang, dan iman juga semakin meningkat. Selanjutnya, pemahaman yang hakikipun akan dapat diperoleh.

Kemudian Allah Ta'ala menerangkan bahwa orang-orang Yahudi ini tidaklah merasakan semua hukuman yang pantas mereka terima. Artinya, sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberi keringanan bagi mereka.

Seandainya bukan karena Allah Ta'ala telah menetapkan pengusiran terhadap mereka dan menentukan takdir yang sama sekali tidak dapat diganti dan berubah, tentulah ada perkara lain berupa adzab dunia yang akan mereka rasakan. Akan tetapi mereka –meskipun tidak mengalami adzab yang berat di dunia– sesungguhnya mereka di akhirat telah disediakan adzab neraka yang tidak satupun mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah Ta'ala.

Sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa hukuman mereka telah selesai dan tidak ada lagi yang tersisa. Karena siksaan yang Allah Ta'ala sediakan bagi mereka di akhirat jauh lebih berat dan lebih mengerikan. Semua ini karena mereka telah menentang Allah Ta'ala kemudian Rasul-Nya. Mereka memusuhi dan meme-rangi Allah Ta'ala serta Rasul-Nya. Bahkan bersegera dalam mendurhakai Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Demikianlah sunnatullah (ketetapan Allah Ta'ala) terhadap orang-orang yang menentang-Nya.
Firman Allah Ta'ala: (Barangsiapa menentang Allah Ta'ala, maka sesungguhnya Allah Ta'ala sangat keras hukuman-Nya).
Artinya, tatkala orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukminin yang menebang pohon-pohon kurma, bahkan menuduh mereka berbuat kerusakan, mereka merasa mendapat celah untuk mengecam kaum muslimin. Maka Allah Ta'ala menerangkan bahwa penebangan pohon-pohon kurma ataupun membiarkannya tetap tumbuh adalah dengan seizin Allah Ta'ala dan perintah-Nya. Juga:  (dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik).
Artinya, di sini Allah Ta'ala memberikan kekuasaan kepada kaum mukminin untuk menebang dan membakar pohon-pohon tersebut agar menjadi hukuman dan kehinaan bagi mereka di dunia. Kemudian, dengan tindakan ini dapat diketahui betapa lengkapnya kelemahan mereka, di mana sama sekali tidak mampu menyelamatkan pohon-pohon kurma yang merupakan modal kekuatan mereka.
Firman Allah Ta'ala:  adalah kata yang meliputi semua pohon kurma, menurut pendapat yang paling tepat dan lebih utama.
Inilah keadaan Bani Nadhir. Lihatlah bagaimana Allah I menghukum mereka di dunia, kemudian menerangkan tentang kepada siapa jatuhnya semua harta benda dan kekayaan mereka.

Allah Ta'ala berfirman:    (Dan apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah Ta'ala kepada Rasul-Nya (berupa harta benda) mereka), yakni dari Bani Nadhir.
Sesungguhnya kalian –wahai kaum muslimin– untuk mendapatkan itu sama sekali:  (kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun).

Maksudnya, kalian wahai muslimin, sama sekali tidak harus bersusah payah memperolehnya, dengan mengerahkan jiwa raga dan kendaraan kalian. Allah Ta'ala telah melemparkan rasa takut yang sangat hebat ke dalam hati mereka, hingga akhirnya mereka datang menyerah kepada kalian. Karena itulah Allah Ta'ala berfirman:
“Akan tetapi Alla Ta'ala yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Ta'ala Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Sebagai kesempurnaan kodrat-Nya, tidak ada satupun yang dapat menghalangi-Nya dan tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkan-Nya.
Al-Fai’ menurut istilah para ulama ahli fiqih adalah harta orang-orang kafir yang diambil dengan alasan yang haq (benar) tanpa melalui pertempuran. Seperti harta (Bani Nadhir ) ini, di mana mereka lari dan meninggalkannya karena takut kepada kaum muslimin. Harta ini dinamakan fai’, karena harta ini berpindah dari tangan orang-orang kafir yang tidak berhak, kepada kaum muslimin yang lebih berhak dan hukumnya berlaku secara umum.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:
1 Ini berdasarkan keterangan Ibnu Syihab Az-Zuhri dan Al-Imam Al-Bukhari t yang menyatakan bahwa perang Bani Nadhir ini terjadi 6 bulan sesudah perang Badr Al-Kubra. Dan ini adalah kekeliruan Az-Zuhri, atau kesalahan orang yang menukil dari beliau. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (3/249) menerangkan: “Tidak ragu lagi bahwa peristiwa ini terjadi setelah perang Uhud. Adapun yang terjadi setelah perang Badr adalah perang Bani Qainuqa’. Jadi, peperangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melawan Yahudi terjadi empat kali. Yang pertama dengan Bani Qainuqa’ yaitu setelah perang Badr, yang kedua dengan Bani Nadhir setelah perang Uhud, yang ketiga dengan Bani Quraizhah setelah peristiwa Khandaq, dan keempat dengan Yahudi Khaibar setelah peristiwa Hudaibiyah. Wallahu a’lam.

✒️ Al Ustadz Abu Muhammad Harits

🌈@LilHuda🌈
🔻🔻🔻🔻🔻

📬Telegram Ahkam, Tanya jawab
📲tlgrm.me/LilHuda

🔶💠💠💠🔶💠💠💠🔶

#perang #baninadhir #kisah

Senin, 29 Agustus 2016

Kisah Ummu 'Umarah Radhiyallahu 'Anha


🌹 🗡KISAH UMMU 'UMARAH RADHIYALLAHU'ANHA.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Kehidupan dunia dengan segala penderitaannya seolah tak lagi berarti baginya, manakala dia telah mendengar janji indah tentang surga. Sepenuh pengorbanan jiwa dan raga dia berikan untuk Allah Ta'ala dan Rasul-Nya.

Mungkin orang yang belum pernah mendengar namanya akan mengernyitkan dahi sembari bertanya, siapakah dia? Namun tak mungkin diingkari, dia adalah seorang shahabiyah yang memiliki untaian kemuliaan besar. Kemuliaannya tertulis dalam sejarah kaum muslimin. Dia bernama Nusaibah bintu Ka’b bin ‘Amr bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar radhiyallahu 'anha.

Ibunya bernama Ar Rabbab bintu ‘Abdillah bin Habib bin Zaid bin Tsa’labah bin Zaid Manat bin Habib bin ‘Abdi Haritsah bin ‘Adlab bin Jasym bin Al Khazraj.

Ummu ‘Umarah dipersunting oleh Zaid bin ‘Ashim bin ‘Amr bin ‘Auf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar. Mereka dikaruniai dua orang putra, ‘Abdullah dan Habib, yang kelak di kemudian hari menjadi shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyertai beliau dalam medan peperangan. Sepeninggal suaminya, Ummu ‘Umarah menikah dengan Ghaziyah bin ‘Amr bin ‘Athiyah bin Khansa’ bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghanam bin Mazin bin An Najjar . Dari pernikahan mereka, lahir Tamim dan Khaulah.

Ummu ‘Umarah radhiyallahu 'anha menyambut datangnya seruan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah keislamannya itu, Allah Ta'ala menganugerahkan banyak kemuliaan padanya. Satu per satu peristiwa besar turut dilaluinya. Dia salah satu wanita yang hadir pada malam ‘Aqabah dan berbai’at kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Medan Uhud, Hudaibiyah, Khaibar, ‘Umratul Qadla’, Hunain tak lepas dari sejarah perjalanan hidupnya bersama Rasulullah n. Bahkan semasa pemerintahan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu, dia turut terjun memerangi Musailamah Al Kadzdzab dalam perang Yamamah.

Kisah indah dan mengesankan dalam medan pertempuran Uhud, tatkala Ummu ‘Umarah radhiyallahu 'anha ikut berperan dalam kancah itu bersama suaminya, Ghaziyah bin ‘Amr serta kedua putranya, ‘Abdullah dan Habib . Dengan membawa geriba tempat air minum untuk memberi minum pasukan yang terluka, Ummu ‘Umarah berangkat bersama pasukan kaum muslimin di awal siang.
Pertempuran berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, tak tersisa di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali hanya beberapa orang yang tak sampai sepuluh orang banyaknya. Di saat yang genting itu, Ummu ‘Umarah terjun langsung dalam peperangan dengan pedangnya. Bersama suami dan dua putranya, Ummu ‘Umarah mendekati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, melindungi di depan beliau dengan segenap kemampuan.

Tanpa perisai Ummu ‘Umarah melindungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sementara sebagian besar pasukan muslimin lari kocar-kacir. Di antara orang-orang yang berlarian menjauh dari beliau, ada seseorang yang lari membawa perisainya. Beliau pun berseru, “Berikan perisaimu pada orang yang berperang!” Orang itu pun melemparkan perisainya dan segera diambil oleh Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah pun bertameng dengannya. Demikian keadaan yang mereka hadapi saat itu, sementara lawan mereka adalah pasukan berkuda kaum musyrikin.
Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda memacu kudanya sembari menyabetkan pedangnya ke arah Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah menangkis tebasan itu dengan perisainya hingga orang itu tak berhasil berbuat sesuatu. Ummu ‘Umarah pun menebas kaki kudanya hingga penunggang kuda itu pun terjatuh. Menyaksikan hal itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera memanggil salah seorang putra Ummu ‘Umarah, “Ibumu! Ibumu!” Dengan cepat putra Ummu ‘Umarah datang membantu ibunya hingga dapat melumpuhkan musuh Allah Ta'ala itu.

Di tengah berkecamuknya perang, putra Ummu ‘Umarah, ‘Abdullah bin Zaid terluka di lengan kirinya, ditebas oleh seseorang yang sangat cepat datangnya dan berlalu begitu saja, tanpa sempat dia kenali. Darah pun mengucur tak henti. Melihat itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, “Balut lukamu!” Ummu ‘Umarah pun datang membawa pembalut yang dipersiapkannya untuk membalut luka-luka, segera mengikat luka putranya, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri mengawasi. Usai mengikat luka, Ummu ‘Umarah berkata pada putranya, “Bangkitlah! Perangilah orang-orang itu!”

Mendengar ucapannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, “Siapa yang mampu melakukan seperti yang kaulakukan, wahai Ummu ‘Umarah?”

Kemudian datanglah orang yang melukai ‘Abdullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun berkata, “Itu orang yang menebas putramu!” Ummu ‘Umarah segera menghadangnya dan menebas betisnya hingga orang itu terjatuh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  tersenyum menyaksikannya hingga tampak gigi geraham beliau. Ummu ‘Umarah radhiyallahu 'anha pun menebasnya bertubi-tubi hingga mati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.mengatakan pada Ummu ‘Umarah, “Segala puji milik Allah Ta'ala yang telah menolongmu serta menyenangkan hatimu dengan keadaan musuhmu dan memperlihatkan pembalasan itu di depan matamu.”

Ummu ‘Umarah pun menderita luka-luka dalam peperangan itu. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena tikaman pedang seorang musuh Alla Ta'ala dan Rasul-Nya, Ibnu Qami’ah. Saat itu, Ibnu Qami’ah datang dan berseru, “Tunjukkan aku pada Muhammad! Aku tidak akan selamat kalau dia selamat!” Dia pun segera dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair bersama para sahabat yang lain radhiyallahu 'anhum. Ummu ‘Umarah berada dalam barisan itu. Maka Ibnu Qami’ah menghunjamkan pedangnya ke pundak Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah radhiyalkahu 'anha pun membalas dengan beberapa kali tebasan, namun musuh Alla Ta'ala itu mengenakan baju perang yang melindunginya.

Tatkala melihat Ummu ‘Umarah terluka di pundaknya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berseru pada ‘Abdullah, “Ibumu! Ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah Ta'ala memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu pada hari ini lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Allah memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait. Kedudukan suami ibumu lebih baik daripada kedudukan si Fulan dan si Fulan. Semoga Alla Ta'ala memberikan barakah kepada kalian wahai ahlul bait!” Ummu ‘Umarah pun meminta, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah Ta'ala agar kami menemanimu di dalam surga!” Beliau pun berdoa, “Ya Allah, jadikan mereka orang-orang yang menemaniku di dalam surga.” Ummu ‘Umarah berkata, “Aku tidak peduli lagi apa yang menimpaku di dunia.”

Dua belas luka didapatkan oleh Ummu ‘Umarah dalam peperangan itu. Tikaman pedang Ibnu Qami’ah itulah luka yang paling parah yang diderita oleh Ummu ‘Umarah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya.
Keadaan luka yang sedemikian hebat tak menyurutkan semangat Ummu ‘Umarah untuk membela Alla Ta'ala dan Rasul-Nya. Ketika kaum muslimin diseru untuk bersiap menuju peperangan di Hamra`il Asad, Ummu ‘Umarah radhiyallahu 'anha pun menyingsingkan bajunya. Namun, dia tak kuasa menahan kucuran darah dari lukanya. Dalam semalam lukanya terus diseka hingga pagi.

Sepulang dari peperangan di Hamra`il Asad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus ‘Abdullah bin Ka’b Al-Mazini untuk menanyakan keadaan Ummu ‘Umarah. ‘Abdullah bin Ka’b pun melaksanakan perintah beliau, kemudian menyampaikan kabar Ummu ‘Umarah kepada beliau.

Kecintaannya pada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya terus diwujudkannya, sampai pun setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat. Ketika Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu menjabat sebagai khalifah, muncul seorang pendusta bernama Musailamah Al-Kadzdzab, yang mengaku sebagai nabi. Abu Bakr radhiyallahu 'anha pun memeranginya bersama pasukan kaum muslimin dalam perang Yamamah. Ummu ‘Umarah pun turut serta dalam pasukan itu. Di sanalah Ummu ‘Umarah radhiyallahu 'anha terpotong tangannya dan menderita sebelas luka lainnya karena tebasan pedang dan tusukan tombak. Di sanalah pula Ummu ‘Umarah kehilangan putranya, Habib bin Zaid radhiyallahu 'anhu.

Tak hanya dalam peperangan dia hadir di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Pun Ummu ‘Umarah meriwayatkan ilmu dari beliau, serta menyebarkannya pada manusia. Perwujudan cintanya kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya dengan segala pengorbanan jiwa dan raga sepanjang perjalanan kehidupannya di dunia, mengan-tarkan dirinya untuk mendapatkan kemuliaan yang kekal selama-lamanya.

Ummu ‘Umarah, semoga Allah Ta'ala meridhainya….
Wallahu Ta’ala a’lamu bish-shawab.

📚Sumber Bacaan:
Al-Ishabah, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (8/265-266)
Al-Isti’ab, karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (4/1948-1949)
Ath-Thabaqatul Kubra, karya Al-Imam Ibnu Sa’d (8/412-415)
Siyar A’lamin Nubala`, karya Al-Imam Adz-Dzahabi (2/278-282)

💻 Sumber: Asy Syari'ah,Edisi.021

🌈@LilHuda🌈
🔻🔻🔻🔻🔻

📬 Telegram Ahkam, Tanya jawab
📲 tlgrm.me/LilHuda

🔶💠💠💠🔶💠💠💠🔶
#ummuumarah #kisah